02 September 2007

Belajar dari Setulang, Peraih Kalpataru


Setulang, Malinau, Kalimantan timur, Badan Pengelola Hutan Tane’ Olen Setulang, pada Tahun 2003 mendapat penghargaan Kalpataru Sebab semua berawal dari sekadar semangat untuk mempertahankan sebuah hutan seluas 5.300 hektar di desanya. Kole beserta warga Setulang di Kabupaten Malinau sudah lelah dibujuk rayu oleh pihak investor pengekspor kayu. Tak kurang dari CV Gading Indah atau CV Wana Bakti mengincar lahan hutan desa yang kaya akan kayu. Ada sekitar delapan perusahaan yang sejak 1970-an berusaha mati-matian menjadikan hutan tersebut sebagai sumber kayu. Mulai dari bujuk rayu manis seperti iming-iming uang, sampai paksaan yang lumayan kasar sudah dialami warga Desa Setulang. “Kami berkeras untuk tidak membiarkan mereka masuk ke hutan kami, sebab kami tahu bahwa hutan adalah sumber penghidupan,” tegas Kole yang putra asli Dayak Kenyah Uma’Lung ini. Dalam tradisi adatnya dikenal istilah tane olen , yakni suatu tanah atau hutan yang tidak boleh ditebang kecuali untuk kepentingan umum, misalnya pembangunan balai desa. Orang luar jelas-jelas tak boleh memasukinya, apalagi menebang. Desa Setulang yang berdiri pada 1968 ini dihuni oleh penduduk pindahan dari pedalaman sungai Sa’an di Apo Kayan. Dengan populasi penduduk 855 jiwa atau 208 kepala keluarga, hutan desa ini menjadi salah satu hutan primer tropis dataran rendah yang masih tersisa di dunia. Sebelum menerima Kalpataru, Desa Setulang juga menjadi salah satu finalis World Water Contest yang diselenggarakan di Kyoto, Jepang pada Maret 2003. Kontes ini memilih desa-desa di seantero dunia yang punya kegiatan berwawasan lingkungan dan berjuang dalam mengelola sumber daya airnya. Walau hanya menjadi finalis, Desa Setulang cukup berbangga, sebab tiga desa saja yang layak menjadi finalis dari 870 peserta. Dan Setulang merupakan satu-satunya finalis yang diwakili kaum petani.Kole sebagai kepala desa menuturkan, perjuangan mereka menampik para investor tak bisa dikatakan mudah. Tak jarang beberapa penduduk desa mulai terbujuk dengan rayuan diberi uang senilai miliaran. Tapi berkat kekompakan hukum adat dan tradisi yang mereka pegang teguh, akhirnya hutan mereka bisa dipertahankan. Ia juga sempat menggerakkan warga untuk unjuk rasa ke perusahaan investor ketika terjadi pelanggaran batas wilayah. Kira-kira dua tahun lalu, investor yang menggarap hutan desa tetangga, yakni Desa Setarap, sempat melewati batas desa hutan mereka. Saat itulah Kole bersama warganya melakukan protes memperjuangkan hutan mereka. Lelaki kelahiran 31 Desember 1956 ini hanya mengecap pendidikan sampai Sekolah Menengah Umum (SMU). Ia tak pernah membaca buku tentang lingkungan atau mengikuti pendidikan lingkungan. Tapi sejak kecil ia sudah tahu bahwa hutan adalah satu-satunya sumber penghidupan manusia yang tidak boleh dirusak. “Dari hutan kami dapat air bersih, buah-buahan, ranting pohon untuk membuat tas dan kerajinan tangan, bahan rempah serta obat. Jadi sudah selayaknya kami mempertahankan untuk anak cucu kami kelak,” jelasnya. Andai saja semua penduduk desa bersikap seperti Kole dan warganya, tentu hutan Indonesia tidak akan berakhir menjadi lahan tambang atau pemasok kayu ekspor. ( sumberSinar Harapan, Minggu, 2 September 2007,inset Rumah adat Setulang)

Suatu kebanggaan, Perusahaanku, Aime Technic Cons diberi kesempatan untuk mengawasi peningkatatan jalan lidung keminci - setulang, 1 September Setulang bisa diacces melalui darat sampai ke desanya, kita bisa memetik pelajaran berharga, hutan perawan untuk anak cucu kita. (inset me dengan latar belakang hutan Setulang, pemandangan ini dapat dinikmati dari jalan yang kami buka. Indah seperti negeri di atas awan.)

1 comment:

merahitam said...

Bener mas, seandainya banyak orang seperti Kole dan penduduk Setulang. Kekayaan alam Indonesia terlalu banyak hanya untuk dinikmati segelintir orang serakah.

btw, itu fotonya malem ya. tapi pemandangannya tetep keren. ada foto siangnya gak? Pengen lihat...